Kehilangan yang Tak Terlihat: Ketika Surga Biodiversitas Mati Perlahan
- account_circle Admin
- calendar_month Kam, 2 Okt 2025

Juniartin (Mahasiswa Program Doktor Biologi, Universitas Gadjah Mada)
Indonesia memang memasok lebih dari 50% nikel dunia, logam penting untuk baterai kendaraan listrik. Tapi pertanyaannya: apakah kita siap membayar harganya dengan kepunahan?. Selain dampak langsung terhadap tutupan vegetasi, peningkatan produksi nikel juga menyebabkan pencemaran udara, tanah, dan sumber daya air. Di pesisir, konversi lahan mangrove terjadi di mana-mana untuk infrastruktur, reklamasi pantai, bahkan terkubur sampah laut.
Padahal, riset global menunjukkan bahwa kehilangan mangrove berarti kehilangan kemampuan ekosistem menyerap karbon hingga empat kali lipat lebih besar daripada hutan daratan. Ancaman terhadap biodiversitas Maluku Utara bukan lagi potensi. Ini adalah kenyataan yang sedang berlangsung.
Masyarakat Adat: Korban Pertama, Pahlawan Terakhir. Masyarakat adat dan komunitas lokal adalah kelompok yang paling bergantung pada biodiversitas, sekaligus yang paling rentan ketika biodiversitas hilang. Mereka mewarisi sistem pengetahuan yang berkaitan erat dengan konservasi keanekaragaman hayati. Mereka adalah aktor penting dalam tata kelola lingkungan yang memelihara hubungan antargenerasi dengan alam melalui praktik mata pencaharian, identitas budaya, pandangan dunia, kelembagaan, dan pengetahuan ekologi.
Hutan bagi mereka bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber pangan, obat-obatan, dan spiritualitas. Ketika hutan dibuka untuk pertambangan atau perkebunan, mereka kehilangan mata pencaharian, identitas, dan pengetahuan tradisional. Penelitian tentang hutan adat di Indonesia menunjukkan bahwa pengakuan dan perlindungan hutan adat tidak hanya menjaga biodiversitas, tetapi juga menguatkan ketahanan pangan masyarakat. Dengan kata lain, solusi berbasis masyarakat adat adalah jalan tengah antara konservasi dan kesejahteraan.
Kehilangan yang Tak Terlihat, Dampak yang Tak Terelakkan. Kehilangan biodiversitas di Maluku Utara tidak selalu hadir sebagai tragedi dramatis seperti gempa bumi atau pandemi. Ia datang perlahan, senyap, merasuki kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Burung bidadari yang dulu mudah dijumpai di pinggir desa, kini hanya bisa dilihat setelah berjam-jam berjalan jauh ke dalam hutan yang semakin menyusut. Nelayan yang terbiasa membawa pulang ikan penuh jaring dengan wajah penuh senyum, kini pulang dengan ekspresi lesu dan hasil tangkapan yang terus berkurang. Anak-anak pesisir yang dulunya berenang riang di laut jernih dengan terumbu karang berwarna-warni di bawahnya, kini berenang di air keruh yang bercampur lumpur tambang kehilangan masa kecil yang seharusnya menjadi kenangan indah mereka.
- Penulis: Admin


