Musda VI: Ketum DPP Beri Catatan Serius, Alien Mus Mampu Atau Tidak?
- account_circle Faisal
- calendar_month Sen, 13 Apr 2026

Musda VI DPD I Partai Golkar Maluku Utara. (MahabariFoto/MF)
TERNATE, Mahabari.com – Panggung Musyawarah Daerah (Musda VI) Partai Golkar Maluku Utara kembali menegaskan satu hal: dominasi lama belum benar-benar berakhir. Alien Mus kembali didapuk memimpin DPD I setelah mengantongi dukungan bulat dari 10 DPD II kabupaten/kota serta enam organisasi sayap partai.
Kemenangan tanpa riak ini di satu sisi mencerminkan soliditas, namun di sisi lain memantik pertanyaan mendasar. apakah ini kekuatan yang terkonsolidasi, atau justru gejala minimnya dinamika internal?
Musda yang digelar di Ballroom Gamalama Bella Hotel, Ternate, Minggu (12/4/2026), sejatinya diharapkan menjadi momentum konsolidasi. Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam sambutannya menegaskan pentingnya konsolidasi yang tidak hanya struktural, tetapi juga fungsional.
“Tidak boleh lagi ada pecah-pecah. Siapapun yang terpilih harus mampu merangkul,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar seruan normatif. Ia sekaligus menyiratkan kekhawatiran akan potensi fragmentasi di tubuh partai, bahwa kemenangan politik tanpa rekonsiliasi hanya akan menyisakan konflik laten.
Bagi Alien Mus, mandat ini bukan sekadar perpanjangan kekuasaan, melainkan ujian kepemimpinan. Ia dituntut membuktikan bahwa dukungan aklamasi bukan hasil kompromi elite semata, tetapi benar-benar mencerminkan kepercayaan kader di akar rumput.
Dalam pidatonya, Alien menegaskan komitmen memperkuat kaderisasi dengan membuka ruang bagi generasi muda. Ia mendorong partisipasi kalangan milenial sebagai energi baru partai, sembari menargetkan kemenangan pada pemilu legislatif dan penguasaan kursi-kursi eksekutif.
Namun, di balik optimisme itu, terselip kalkulasi politik yang belum sepenuhnya terbuka. Terkait arah dukungan pada pemilihan presiden, Alien memilih menahan sikap. Ia hanya memberi sinyal keberlanjutan dengan menyatakan masih sejalan dengan pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka.
Sikap ini mencerminkan kehati-hatian menunggu momentum sambil menjaga posisi tawar politik.
Dinamika internal juga sempat mencuat lewat nama Anjas Taher yang digadang sebagai penantang. Isu “deal politik” yang menyebut Anjas bakal mengisi posisi sekretaris DPD I pun beredar. Namun, Alien merespons spekulasi itu secara diplomatis.
“Itu informasi kamu, bukan saya,” ujarnya singkat—jawaban yang meredam, tetapi tetap menyisakan ruang tafsir tentang negosiasi di balik layar.
Di titik ini, ujian sesungguhnya dimulai. Janji merangkul semua pihak, termasuk rival internal, bukan sekadar retorika. Dalam tradisi Golkar, keseimbangan kekuatan kerap menjadi penentu stabilitas—atau sebaliknya, sumber konflik laten.
Alien menegaskan akan menyusun struktur kepengurusan berbasis figur berpengalaman yang memahami AD/ART partai. Langkah yang tampak normatif, namun krusial untuk memastikan mesin politik berjalan efektif.
Pada akhirnya, kepemimpinan Alien Mus periode ini tidak akan diukur dari seberapa lama ia bertahan di pucuk kekuasaan, melainkan dari kemampuannya mengelola perbedaan dan menerjemahkan konsolidasi menjadi kerja politik nyata.
Golkar Maluku Utara kini berada di persimpangan: mempertahankan stabilitas, atau bertransformasi menjadi kekuatan politik yang adaptif dan inklusif.
- Penulis: Faisal
- Editor: Faisal



