Perpusnas Hentikan DAK Fisik, Pembangunan Gedung Perpustakaan Ternate Nihil
- account_circle Faisal
- calendar_month 21 jam yang lalu

DAK Fisik Nihil, Literasi jadi prioritas Perpusnas RI. (MahabariFoto)
TERNATE, Mahabari.com – Kebijakan pemerintah pusat menghentikan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik untuk pembangunan gedung perpustakaan sejak 2025 menjadi tantangan serius bagi daerah, termasuk Kota Ternate. Kondisi itu diungkapkan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, saat memberikan penjelasan terkait arah kebijakan pembangunan perpustakaan nasional dan daerah.
Menurut Aminudin, usulan pembangunan gedung perpustakaan sebelumnya diajukan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat untuk dibahas lintas kementerian, mulai dari Perpustakaan Nasional, Kementerian Keuangan hingga Bappenas. Namun, sejak 2025 pemerintah pusat tidak lagi menyediakan anggaran pembangunan fisik melalui skema DAK.
“DAK fisik sudah tidak ada lagi sejak tahun 2025. Itu kebijakan pemerintah pusat, bukan dari kami,” kata Aminudin. Senin (11/05/2026).
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut membuat daerah tidak lagi bisa berharap pada bantuan pembangunan gedung perpustakaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pengganti, pemerintah kini mengalihkan dukungan ke DAK nonfisik yang difokuskan pada program penguatan layanan literasi dan transformasi digital perpustakaan.
Di tengah penghentian anggaran fisik itu, Perpusnas memilih memperkuat layanan berbasis teknologi digital. Aminudin menegaskan, perkembangan teknologi yang sangat cepat memaksa perpustakaan beradaptasi agar tetap relevan di tengah perubahan pola baca masyarakat.
Salah satu langkah yang diperkuat adalah layanan buku digital melalui aplikasi iPusnas. Platform tersebut menyediakan ribuan koleksi buku digital yang dapat diakses gratis oleh masyarakat, baik di Indonesia maupun luar negeri.
“Mulai dari buku anak-anak, buku pelajaran, buku akademik sampai bacaan umum tersedia gratis. Tinggal mengunduh aplikasinya lalu masyarakat bisa mengaksesnya kapan saja,” ujarnya.
Sementara itu, Marliza Marsaoly menegaskan penguatan budaya literasi di daerah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Menurutnya, peran komunitas literasi dan taman baca masyarakat menjadi ujung tombak dalam meningkatkan minat baca masyarakat hingga tingkat kelurahan.
Ia mengatakan, program Bunda Literasi akan difokuskan pada penguatan taman baca masyarakat, perpustakaan komunitas, serta kolaborasi bersama organisasi dan komunitas yang selama ini aktif bergerak di bidang literasi.
“Tugas kami adalah menjadi penggerak. Karena itu kolaborasi dengan komunitas literasi menjadi sangat penting,” katanya.
Marliza juga mengakui tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah rendahnya minat baca masyarakat. Meski demikian, ia menilai komunitas baca di Kota Ternate telah berkembang cukup aktif dan mandiri, meskipun masih membutuhkan perhatian dan dukungan lebih kuat dari pemerintah daerah.
Menurutnya, langkah ke depan adalah memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, komunitas literasi, dan masyarakat agar gerakan literasi tidak berhenti sebagai program seremonial semata, tetapi benar-benar menjadi budaya di tengah masyarakat.
- Penulis: Faisal
- Editor: Faisal



