Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Refleksi Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional 2026

Refleksi Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional 2026

  • account_circle Muhammad Zufriyadi
  • calendar_month 1 menit yang lalu

Guru dan Buruh: Refleksi Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional 2026
Oleh: Muhammad Zufriyadi, S.Si., MM
Ketua PGRI Kabupaten Halmahera Timur

Mahabari.com – Negeri ini. setiap awal Mei selalu menghadirkan dua momentum penting yang berdekatan: Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional. Dua peringatan ini kerap berjalan sendiri-sendiri, seolah tidak memiliki irisan makna. Padahal, jika ditarik lebih dalam, guru dan buruh sesungguhnya berdiri di jalur perjuangan yang sama, memperjuangkan martabat, kesejahteraan, dan masa depan bangsa.

Buruh adalah penggerak roda ekonomi. Mereka bekerja di pabrik, kebun, tambang, hingga sektor informal, memastikan kehidupan terus berjalan. Sementara guru adalah penggerak peradaban. Mereka bekerja di ruang-ruang kelas, sering kali dengan keterbatasan, memastikan generasi masa depan memiliki pengetahuan, karakter, dan harapan. Jika buruh membangun fisik bangsa, maka guru membangun jiwa dan pikirannya.

Namun, ironi tak bisa dihindari. Di tengah peran strategis tersebut, baik buruh maupun guru masih menghadapi persoalan klasik: kesejahteraan, perlindungan, dan pengakuan yang belum sepenuhnya layak. Buruh masih berjuang untuk upah yang adil dan kondisi kerja yang manusiawi. Di sisi lain, tidak sedikit guru terutama guru honorer yang harus bertahan dengan penghasilan yang jauh dari cukup, bahkan di bawah standar kebutuhan hidup.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin kita berharap kualitas pendidikan meningkat jika para gurunya masih berkutat pada persoalan dasar kehidupan?

Di sinilah refleksi menjadi penting. Hari Buruh tidak semata tentang demonstrasi dan tuntutan upah, tetapi juga tentang penghormatan terhadap kerja manusia. Hari Pendidikan Nasional tidak hanya seremoni dan pidato, tetapi juga momentum evaluasi terhadap sistem pendidikan kita. Ketika dua hari ini ditempatkan dalam satu bingkai, kita diingatkan bahwa pendidikan dan ketenagakerjaan adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.

Guru pada hakikatnya juga adalah buruh, buruh intelektual. Mereka menjual tenaga, waktu, dan pikirannya untuk mendidik. Bedanya, hasil kerja guru tidak selalu langsung terlihat seperti produk pabrik. Hasil kerja guru adalah manusia itu sendiri, yang baru akan tampak dampaknya bertahun-tahun kemudian.

Karena itu, memperlakukan guru secara layak bukan sekadar kewajiban moral, tetapi investasi jangka panjang. Negara yang ingin maju tidak bisa mengabaikan kesejahteraan gurunya. Begitu pula, sistem ketenagakerjaan yang sehat harus berangkat dari pendidikan yang berkualitas. Buruh yang terampil, adaptif, dan inovatif lahir dari proses pendidikan yang baik.

Di Kabupaten Halmahera Timur, tantangan ini terasa nyata. Keterbatasan akses, distribusi guru, hingga sarana pendidikan menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Di saat yang sama, dunia kerja terus berubah, menuntut keterampilan baru yang tidak selalu sejalan dengan kurikulum yang ada. Jika tidak diantisipasi, kita akan menghadapi jurang antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Momentum tahun 2026 ini seharusnya menjadi titik balik. Kita tidak bisa lagi memandang pendidikan dan ketenagakerjaan sebagai dua sektor yang berjalan sendiri. Perlu ada kebijakan yang lebih terintegrasi, menghubungkan sekolah dengan kebutuhan industri, memperkuat pendidikan vokasi, serta memastikan bahwa lulusan sekolah memiliki kompetensi yang relevan dengan dunia kerja.

Namun, semua itu tidak akan berarti tanpa keberpihakan yang jelas kepada guru. Peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dari peningkatan kualitas hidup guru. Sertifikasi, pelatihan, dan digitalisasi pendidikan memang penting, tetapi tidak cukup jika tidak diiringi dengan kesejahteraan yang layak.

Pada akhirnya, refleksi Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional mengajarkan satu hal: kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alam yang dimiliki, tetapi oleh seberapa serius kita menghargai manusia yang mengelolanya, baik di ruang kelas maupun di tempat kerja.

Guru dan buruh bukanlah dua kelompok yang berbeda. Mereka adalah dua pilar yang menopang bangunan yang sama: Indonesia yang berdaulat, adil, dan berdaya saing.

Jika kita ingin masa depan yang lebih baik, maka sudah saatnya kita berhenti sekadar memperingati, dan mulai memperbaiki.

  • Penulis: Muhammad Zufriyadi
  • Editor: Faisal

Rekomendasi Untuk Anda

  • Musda VI DPD PAN, Empat DPD Berganti: DPW Malut Targetkan 1 Kursi DPR RI

    Musda VI DPD PAN, Empat DPD Berganti: DPW Malut Targetkan 1 Kursi DPR RI

    • calendar_month Ming, 21 Des 2025
    • account_circle Faisal
    • 0Komentar

    TERNATE Mahabari.com – Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Amanat Nasional (PAN) tingkat kabupaten/kota digelar secara serentak di seluruh Indonesia melalui Zoom Meeting, Minggu (21/12/2025). Di Provinsi Maluku Utara, Musda gabungan untuk 10 kabupaten/kota dipusatkan di Kota Ternate. Penetapan struktur formatur dan ketua DPD PAN dibacakan langsung oleh pimpinan pusat PAN. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) […]

  • Rizal Marsaoly Tak Tahu Aset Tanah Yang Dibelinya, Kabid Pertanahan Disperkim: BPKAD Malas

    Rizal Marsaoly Tak Tahu Aset Tanah Yang Dibelinya, Kabid Pertanahan Disperkim: BPKAD Malas

    • calendar_month Jum, 25 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    TERNATE Mahabari.com – Berdasarkan data yang diberikan KPKNL kepada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dan selanjutnya diserahkan kepada Dinas Perkim untuk dilakukan Peninjauan terkait 113 Aset tanah yang tidak diketahui keberadaannya. Saat di konfirmasi Kepala dinas Perkim Tonny S Pontoh, mengatakan dirinya juga tidak mengetahui hal itu. Dari 113, ada dua lahan di […]

  • Tuntaskan Berbenah: Wali Kota Janji Atasi Sampah, Begini Jadinya

    Tuntaskan Berbenah: Wali Kota Janji Atasi Sampah, Begini Jadinya

    • calendar_month Jum, 21 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    TERNATE Mahabari.com – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ternate kembali mengangkat isu ini. Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (SPM) IMM, Risman M. Naipon, mengingatkan janji Wali Kota Tauhid-Nasir terkait Program 100 Hari Kerja mengenai pengelolaan sampah (21/03/2025). Baca Juga  Resmikan Sentra Layanan UT (Salut) Fayfiye, Pendidikan Jadi PrioritasRisman menyatakan, “Sudah menjadi hal […]

  • Wali Kota Ternate Resmi Buka Forum Perangkat Daerah dan Musrenbang RKPD Tahun 2026

    Wali Kota Ternate Resmi Buka Forum Perangkat Daerah dan Musrenbang RKPD Tahun 2026

    • calendar_month Rab, 19 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    TERNATE Mahabari.com – Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, menghadiri sekaligus membuka Forum Perangkat Daerah dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2026. Rabu (19/3/2025). Kegiatan tersebut digelar di Royal Resto Turut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar, Sekretaris Daerah Kota Ternate Rizal Marsaoly, Plt. Kepala Bappelitbangda Mohd. Taufik […]

  • Foto Calon Walikota Ternate Firman Mudaffar Sjah Bersama tim dan Kedua Orang Panelis

    Usai Di Fit Hanura, Firman Siap Bertarung Di Pilwako Ternate

    • calendar_month Sen, 6 Mei 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Bersama Hanura, Firman Siap Bertarung Di Pilwako Ternate TERNATE Mahabari.com – Pengembalian formulir bakal calon walikota Ternate Firman Mudaffar Sjah, Anak dari mendiang Sultan Ternate,H. Mudaffar Sjah melakukan pengembalian formulir pendaftaran di Sekretariat DPD. Partai Hanura,Senin (06/05/24). Dalam pengembalian formulir pendaftaran Partai Hanura, Calon walikota Ternate itu langsung dilakukan Fit And Proper Test dari kedua […]

  • Tidak Mampu Urus Masalah Desa Waiboga, DPRD Sula Dinilai “Loyo”

    Tidak Mampu Urus Masalah Desa Waiboga, DPRD Sula Dinilai “Loyo”

    • calendar_month Sab, 21 Mei 2022
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    MAHABARI, SANANA- Masyarakat Desa Waiboga, Kecamatan Sulabesi Tengah menilai Komisi I DPRD Kabupaten Sula lemah alias loyo dalam menyikapi masalah pemecatan 23 orang aparat Desa Waiboga. Masyarakat Desa Waiboga Muhamat Tidore kepada media Mahabari.com mengatakan, DPRD Sula tidak bisa menegaskan hasil hering bersama Kabag Pemerintahan, DPRD Sula, Camat Sulabesi Tengah, dan Pejabat Desa Waiboga namun […]

expand_less